Minggu, 06 Oktober 2013

Laporan Lengkap

Nama                            :        Khusnul Khatima Syam
Kelas/nis                       :        IIIC/114680
Kelompok                     :        C2.1
Tanggal mulai               :        06 Oktober 2013
Tanggal selesai             :        06 Oktober 2013
Judul penetapan          :        Uji ketengikan Minyak/Lemak
Dasar prinsip                :        Bilangan peroksida sebagai jumlah asam
lemak teroksida ditentukan berdasarkan jumlah  berdasarkan jumlah iodine (I2) yang terbnetuk dari reaksi peroksida dalam minyak dalam ion iodine (I-) yang sebanding dengan kadar peroksida sampel.
Tujuan penetapan        :        Untuk menguji ketengikan Minyak/Lemak.
Reaksi                          :        R-OOH+2KI-->R-OH+I2+2KOH
                                               I2+2Na2S2O3-->2NAI+Na2S4O6
Landasan teori             :      
         
           Minyak goreng adalah lemak yang digunakan untuk medium penggoreng. Secara umum, di pasaran ditawarkan dua macam minyak goreng: minyak goreng nabati (berasal dari tanaman; minyak sayur) dan hewani (berasal dari hewan). Bagi umat Islam, faktor penting dalam memilih minyak goreng tentunya dari aspek kehalalannya. Ditinjau dari aspek kehalalan, maka minyak goreng hewani tentunya perlu dipilih dengan esktra hati-hati. Sayangnya, sulit menentukan minyak goreng yang kita beli mengandung minyak babi atau tidak. Dengan menggunakan alat analisis yang canggih, penentuan ada tidaknya unsur babi pada minyak goreng ini, bukan perkara mudah.
Di Indonesia, minyak goreng yang umum dipakai adalah minyak goreng nabati berbentuk cair pada suhu kamar. Tetapi untuk tujuan penggorengan di industri makanan, sering pula digunakan minyak goreng yang berbentuk padat pada suhu kamar. Misalnya, minyak goreng stearin. Pemilihan minyak goreng tergantung dari tujuan penggunaannya. Masing-masing pada dasarnya mempunyai kelebihan dan kekurangan untuk keperluan tertentu. Yang perlu diperhatikan untuk memilih minyak goreng adalah faktor citarasa, stabilitas atau ketahanan terhadap panas, nilai gizi, aspek kesehatan, harga, dan khususnya untuk industri besar adalah faktor jaminan ketersediaan.
Ketengikan adalah proses kerusakan minyak goreng yang menyebabkan adanya citarasa dan bau yang tidak enak. Ini akibat dari proses peruraian minyak karena rembesan air (hidrolisis) dan kerusakan minyak karena adanya oksigen (oksidasi).
Penggorengan merupakan salah satu proses olahan pangan yang sabgat populer. Penggorengan dapat didefinisikan sebagai proses pemasakan dan pengeringan produk dengan media panas berupa minyak sebagai media pindah panas. Penggorengan dari segi ilmiah sangat sulit karena terjadi perpindahan panas dan massa secara simultan. Ketika bahan pangan digoreng menggunakan minyak goreng panas, banyak reaksi komplek terjadi di dalam minyak dan pada saat itu minyak akan mulai mengalami
kerusakan.
minyak telah rusak.
Penggunaan jelantah (minyak goreng yang telah digunakan lebih dari satu kali penggorengan) merupakan hal yang biasa di masyarakat. Sebagian orang berpendapat makanan yang dicampur jelantah lebih sedap dan sebagian lagi karena keterdesakan ekonomi. Minyak yang dipanaskan secara berulang-ulang, menyebabkan proses destruksi minyak bertambah cepat. Kadar peroksida meningkat pada tahap pendinginan dan akan mengalami dekomposisi jika minyak tersebut dipanaskan kembali. Minyak yang rusak akibat proses hidrolisa, oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak.
Selama penggorengan minyak dalam kondisi suhu tinggi, adanya udara dan air yang dikandung oleh bahan menyebabkan minyak mengalami kerusakan. Adanya interaksi antara produk dan minyak menyebabkan terjadinya reaksi yang sangat komplek, akan terbentuk senyawa volatile maupun nonvolatile yang akan memberikan tanda bahwa
Berdasarkan sifat fisikanya, kualitas minyak dapat diketahui dari kandungan asam dienoat, warna, dielektrik konstan, titik asap, dan viskositas. Berdasarkan perubahan kimia pada minyak, kandungan asam lemak bebas, bilangan karbon, penentuan total senyawa polar dan viskositas dapat digunakan untuk pengujian kualitas minyak goreng. Kriteria minyak goreng yang baik dapat diketahui dengan membandingkan beberapa sifat fisika-kimianya seperti dieletrik konstan, bilangan peroksida, dan asam lemak bebas.
Asam lemak bebas terbentuk karena terjadinya hidrolisa minyak menjadi asam-asamnya. Asam lemak bebas merupakan indikator kesegaran suatu minyak goreng, meskipun bukan menjadi satu-satunya indikator kerusakan. Air dapat menghidrolisa minyak menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Proses ini dibantu oleh adanya asam, alkali, uap air, temperatur tinggi dan enzim. Kandungan asam lemak bebas minyak meningkat selama pemanasan, disebabkan peristiwa oksidasi dan hidrolisis. Pada proses ini terjadi pemutusan rantai triglesirida menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol.
Kombinasi lamanya pemanasan dan suhu yang tinggi mengakibatkan terjadinya beberapa reaksi penyebab kerusakan minyak. Reaksi-reaksi yang terjadi adalah hidrolisa, oksidasi dan polimerisasi. Minyak yang rusak akibat dari proses hidrolisa, oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak. Minyak yang telah rusak tidak hanya mengakibatkan kerusakan nilai gizi, tetapi juga merusak tekstur, flavor dari bahan pangan yang digoreng.
Reaksi oksidasi oleh oksigen terhadap asam lemak tidak jenuh akan menyebabkan terbentuknya peroksida, aldehid, keton serta asam-asam lemak berantai pendek yang dapat menimbulkan perubahan organoleptik yang tidak disukai seperti perubahan bau dan flavour (ketengikan). Oksidasi disebabkan oleh udara yang ada disekitar saat pemanasan atau penggorengan, umumnya proses ini berjalan lambat. Derajat oksidasi ditandai dengan penyerapan oksigen, semakin lama dan tinggi suhu pemanasan, proses oksidasi berjalan cepat. Oksidasi terjadi pada ikatan tidak jenuh dalam asam lemak. Oksidasi dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida dengan pengikatan oksigen pada ikatan rangkap pada asam lemak tidak jenuh.
Minyak mengalami oksidasi menjadi senyawa antara peroksida yang tidak stabil ketika dipanaskan. Pemanasan minyak lebih lanjut akan merubah sebagian peroksida volatile decomposition products (VDP) dan non volatile decomposition products (NVDP). Senyawa-senyawa VDP dan NVDP yang dihasilkan oleh senyawa antara peroksida seperti aldehid, keton, ester, alkohol, senyawa siklik dan hidrokarbon, secara keseluruhan membuat minyak menjadi polar dibandingkan minyak yang belum dipanaskan.
Peningkatan kandungan senyawa polar pada minyak sawit yang dipanaskan berbentuk linear, peningkatan ini yang tertinggi dibandingkan dengan minyak kedelai, shortening, dan beef tallow.
Salah satu parameter kerusakan minyak goreng adalah titik asap. Titik asap adalah suhu pemanasan minyak sampai terbentuk akrolein yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Semakin tinggi titik asap, semakin baik mutu minyak goreng. Asap tipis yang muncul saat pemanasan minyak merupakan tanda yang normal, namun jika minyak mengeluarkan asap sangat banyak, menandakan minyak tidak layak lagi digunakan.
Alat dan bahan : 
Erlenmeyer 250ml
Pipet Volum
Gelas ukur
Labu ukur 250ml
corong
Minyak goreng
KI
Larutan bilangan peroksida (Campuran CH3COOH : C2H5OH : CHCl3)

Cara Kerja :
- Ditimbang secara teliti 5gram kedalam erlenmeyer tutup asah 250ml
- Ditambahkan 1gram KI
- Ditambahkan 25ml larutan bilangan peroksida (campuran CH3COOH : C2H5OH : CHCl3)
- Dihomogenkan dan didiamkan ditempat gelap 30 menit dipanaskan
- Ditambahkan 50 ml air bebas oksigen
- Dititrasi dengan tio 0.02 N (indikator amilum)
- Dibandingkan terhadap blanko

Pengamatan :
- Volume titrasi sampel    :  12.3 ml
- Volume titrasi blanko     :  1.2 ml
- Bobot sampel               :   5.0025 gram --> 5002.5 mg

Perhitungan :
  
  (V.T.SAMPEL - V.T.BLANKO) X Ntio X 8
                           Gram Sampel
 
   
 (12.3 ml - 1.2 ml) X 0.02 ml X 8
                5002.5 mg
= 3.550 X 10-4 meq/mg

Kesimpulan :

         Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan dapat disimpulkan bahwa bilangan peroksida yang didapatkan adalah 3.550 X 10-4 meq/mg



Nama                         :  Khusnul Khatima Syam
Kelas                          : IIIC
Nis                              : 114680
Kelompok                  :  C2.1
Judul penetapan        :  Penetapan kadar Karbohidrat dalam sampel (Mie Instan)
Tanggal mulai            : 06 Oktober 2013
Tanggal Selesai         : 06 Oktrober 2013

Tujuan Penetapan :

Mengetahui definisi Karbohidrat
Mengetahui prosedur kerja penetapan Kadar Karbohidrat
Mengetahui alat dan bahan yang di gunakan
Mengetahui reaksi yang terjadi
Mengetahui Kadar Karbohidrat dalam sampel Mie Instan.
Prinsip Kerja :
Contoh bereaksi dengan CuO berlebih, kelebihan CuO ditambahkan KI 30% dan H2SO4 25% kemudian dititar dengan larutan Na2S2O3 (Tio) 0,1N

Reaksi :

(C6H10O5)n + H2O n . C6H12O6
C6H12O6 + 2CuO Cu2O + C5H11O5-COOH
Sisa CuO + 2KI + H2SO4 CuI2 + K2SO4 + H2O
. CuI2 Cu2I2 + I2
I2 + 2Na2SO3 2NaI + Na2S4O6


Landasan Teori :

K A R B O H I D R A T

Karbohidrat adalah golongan senyawa organic yang terdiri atas unsure karbon,hydrogen dan oksigen. Pada umumnya karbohidrat memenuhi rumus empiric Cn(H2O)m dan itulah sebabnya golongan senyawa ini disebut karbohidrat yang berarti hidrat (karbon)/(hidrat arang). Karbohidrat adalah suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa-senyawa yang dapat terhidrolisis menghasilkan senyawa seperti itu. Satu contoh Polihidroksi Aldehid ialah Glukosa, dan contoh Keton ialah Fruktosa.
KLASIFIKASI KARBOHIDRAT

Berdasarkan reaksi hidrolisisnya, karbohidrat dibedakan atas :
Monosakarida
Monosakarida ialah karbohidrat yang paling sederhana, tidak dapat lagi di hidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana.
Oligosakarida
Oligosakarida ialah karbohidrat yang pada hidrolisis menghasilkan beberapa (2-10) molekul monosakarida. Yang terpenting dari golongan ini adalah disakarida yang dapat menghasilkan 2 molekul monosakarida.
Polisakarida
Polisakarida ialah karbohidrat yang dapat di hidrolisis membentuk banyak (>10) molekul monosakarida.

Monosakarida
Berdasarkan jenis gugus fungsinya, monosakarida dibedakan atas Aldosa dan Ketosa. Aldosa ialah monosakarida yang mengandung gugus aldehid, sedangkan Ketosa ialah monosakarida yang mengandung gugus keton. Glukisa,galaktosa,manosa dan ribose tergolong Aldosa, sedangkan fruktosa tergolong Ketosa.
Reaksi-reaksi Monosakarida :
Reaksi Oksidasi
Reaksi Mutarotasi
Reaksi Reduksi
Reaksi Pembentukan Ester.

Disakarida
Disakarida terbentuk dari kondensasi dua molekul monosakarida, masing-masing menggunakan gugus OHuntuk membentuk jembatan oksigen dan membebaskan satu molekul air. Karena dalam molekul monosakarida terdapat banyak gugus OH maka pembentukan dapat terjadi menurut berbagai cara. Disakarida terpenting ialah Sukrosa(gula Tebu), maltosa(gula Malt) dan laktosa(gula Susu).
Polisakarida
Suatu sakarida yang setiap molekulnya terdiri dari ratusan bahkan ribuan monosakarida, merupakan hasil fotosintesa pada tanaman.
6CO2 + 5n.H2O (C6H10O5)n.
Dari system ikatan monosakaridanya mengakibatkan adanya polisakarida yang dapat dicerna oleh lambung, yaitu pati atau karbohidrat, dan polisakarida yang tidak dapat dicerna oleh lambung yaitu selulosa atau serat kasar.
Karbohidrat ada yang bersifat pereduksi dan ada yang bersifat non pereduksi. Kedua sofat ini di karenakan adanya gugusan aldehid(pereduksi) dan gugusan Keton(non pereduksi). Ada 2 macam penetapan karbohidrat, yaitu :
Cara Titrasi (cara Luff)
Cara Spektrofotometri

Prinsip kerja kedua cara ini adalah hidrolisis pati oleh asam menjadi gula pereduksi. Pada penetapan cara luff dipakai pereduksi garam Cu kompleks, dimana glukosa yang bersifat pereduksi akan mereduksi Cu2+ menjadi Cu+ atau CuO direduksi menjadi Cu2Oyang berwarna merah bata. Kemudian kelebihan Cu2O ditetapkan dengan cara iodometri. Dengan menetapkan blanko, maka ml tio yang dibutuhkan untuk menitar Cu2+ dapat diketahui.

Alat & bahan :

Alat :
Erlenmeyer 300ml
Pipet volume 25ml
Buret asan 50ml
Erlenmeyer asah 300ml
Pendingin tegak
Penangas air
Gelas ukur 100ml
Pipet Volume 10ml
Labu ukur 250ml
corong
Bahan :
Mie Instan (sampel)
H2SO4 1,25%
H2SO4 25%
NaOH 3,25%
Indicator PP
KI 30%
Tio
Aquadest
Larutan Luff

  Prosedur Kerja :

Ditimbang 2,0026g sampel mie instan ke dalam Erlenmeyer 300ml
Ditambahkan 25ml H2SO4 1,25%
Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak
Di didihkan diatas penangas air selama ±1,5-2 jam
Di dinginkan dan dimasukkan seluruhnya kedalam labu ukur 250ml
Dinetralkan dengan NaOh 3,25% menggunakan indicator PP kemudian di tepatkan sampai tanda garis dan di saring
Di pipet 10ml hasil saringan, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer asah, ditambahkan 25mllarutan luff dan 15nm aquadest
Dididihkan memakai pendingin tegak selama 10menit
Larutan didinginkan dan ditambahkan 10ml KI 30% dan 25ml H2SO4 25% melalui dinding Erlenmeyer
Dititar dengan larutan Tio 0,1000N hingga titik akhir, sebagai penunjuk digunakan larutan kanji
Blanko di tetapkan seperti diatas.


Pengamatan :

- Bobot Sampel               :  3.0073 gram
- Volume titrasi blanko     :  44.9 ml
- Volume titrasi sampel    :  7.2 ml


Perhitungan :

AT   =   (B - Sampel)ml X Ntio Standar
                      Ntio Standar

       =   (44.9 - 7.2) ml X 0.1000 mmol/meq
                        0.1000 mmol/meq

       =   37.7ml

3.77   =  7.2  +  (0.77 X 2.5)
         =  9.125 mg
         =  9.125  X  10  = 91.25 mg

%   =  Fp x mg Glukosa   x 100%
              mg Sampel

      =   25 X 91.25 mg  x 100%
              3007.3mg

      =  75.85%



Kesimpulan :


         Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar karbohidrat dalam sampel ialah 75.85 %



Nama                         :  Khusnul Khatima Syam
Kelas                          : IIIC
Nis                              : 114680
Kelompok                  :  C2.1
Judul penetapan        :  Penetapan kadar Karbohidrat dalam sampel (Mie Instan)
Tanggal mulai            : 06 Oktober 2013
Tanggal Selesai         : 06 Oktrober 2013

Tujuan Penetapan :

Mengetahui definisi Karbohidrat
Mengetahui prosedur kerja penetapan Kadar Karbohidrat
Mengetahui alat dan bahan yang di gunakan
Mengetahui reaksi yang terjadi
Mengetahui Kadar Karbohidrat dalam sampel Mie Instan.
Prinsip Kerja :
Contoh bereaksi dengan CuO berlebih, kelebihan CuO ditambahkan KI 30% dan H2SO4 25% kemudian dititar dengan larutan Na2S2O3 (Tio) 0,1N

Reaksi :

(C6H10O5)n + H2O n . C6H12O6
C6H12O6 + 2CuO Cu2O + C5H11O5-COOH
Sisa CuO + 2KI + H2SO4 CuI2 + K2SO4 + H2O
. CuI2 Cu2I2 + I2
I2 + 2Na2SO3 2NaI + Na2S4O6


Landasan Teori :

K A R B O H I D R A T

Karbohidrat adalah golongan senyawa organic yang terdiri atas unsure karbon,hydrogen dan oksigen. Pada umumnya karbohidrat memenuhi rumus empiric Cn(H2O)m dan itulah sebabnya golongan senyawa ini disebut karbohidrat yang berarti hidrat (karbon)/(hidrat arang). Karbohidrat adalah suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa-senyawa yang dapat terhidrolisis menghasilkan senyawa seperti itu. Satu contoh Polihidroksi Aldehid ialah Glukosa, dan contoh Keton ialah Fruktosa.
KLASIFIKASI KARBOHIDRAT

Berdasarkan reaksi hidrolisisnya, karbohidrat dibedakan atas :
Monosakarida
Monosakarida ialah karbohidrat yang paling sederhana, tidak dapat lagi di hidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana.
Oligosakarida
Oligosakarida ialah karbohidrat yang pada hidrolisis menghasilkan beberapa (2-10) molekul monosakarida. Yang terpenting dari golongan ini adalah disakarida yang dapat menghasilkan 2 molekul monosakarida.
Polisakarida
Polisakarida ialah karbohidrat yang dapat di hidrolisis membentuk banyak (>10) molekul monosakarida.

Monosakarida
Berdasarkan jenis gugus fungsinya, monosakarida dibedakan atas Aldosa dan Ketosa. Aldosa ialah monosakarida yang mengandung gugus aldehid, sedangkan Ketosa ialah monosakarida yang mengandung gugus keton. Glukisa,galaktosa,manosa dan ribose tergolong Aldosa, sedangkan fruktosa tergolong Ketosa.
Reaksi-reaksi Monosakarida :
Reaksi Oksidasi
Reaksi Mutarotasi
Reaksi Reduksi
Reaksi Pembentukan Ester.

Disakarida
Disakarida terbentuk dari kondensasi dua molekul monosakarida, masing-masing menggunakan gugus OHuntuk membentuk jembatan oksigen dan membebaskan satu molekul air. Karena dalam molekul monosakarida terdapat banyak gugus OH maka pembentukan dapat terjadi menurut berbagai cara. Disakarida terpenting ialah Sukrosa(gula Tebu), maltosa(gula Malt) dan laktosa(gula Susu).
Polisakarida
Suatu sakarida yang setiap molekulnya terdiri dari ratusan bahkan ribuan monosakarida, merupakan hasil fotosintesa pada tanaman.
6CO2 + 5n.H2O (C6H10O5)n.
Dari system ikatan monosakaridanya mengakibatkan adanya polisakarida yang dapat dicerna oleh lambung, yaitu pati atau karbohidrat, dan polisakarida yang tidak dapat dicerna oleh lambung yaitu selulosa atau serat kasar.
Karbohidrat ada yang bersifat pereduksi dan ada yang bersifat non pereduksi. Kedua sofat ini di karenakan adanya gugusan aldehid(pereduksi) dan gugusan Keton(non pereduksi). Ada 2 macam penetapan karbohidrat, yaitu :
Cara Titrasi (cara Luff)
Cara Spektrofotometri

Prinsip kerja kedua cara ini adalah hidrolisis pati oleh asam menjadi gula pereduksi. Pada penetapan cara luff dipakai pereduksi garam Cu kompleks, dimana glukosa yang bersifat pereduksi akan mereduksi Cu2+ menjadi Cu+ atau CuO direduksi menjadi Cu2Oyang berwarna merah bata. Kemudian kelebihan Cu2O ditetapkan dengan cara iodometri. Dengan menetapkan blanko, maka ml tio yang dibutuhkan untuk menitar Cu2+ dapat diketahui.

Alat & bahan :

Alat :
Erlenmeyer 300ml
Pipet volume 25ml
Buret asan 50ml
Erlenmeyer asah 300ml
Pendingin tegak
Penangas air
Gelas ukur 100ml
Pipet Volume 10ml
Labu ukur 250ml
corong
Bahan :
Mie Instan (sampel)
H2SO4 1,25%
H2SO4 25%
NaOH 3,25%
Indicator PP
KI 30%
Tio
Aquadest
Larutan Luff

  Prosedur Kerja :

Ditimbang 2,0026g sampel mie instan ke dalam Erlenmeyer 300ml
Ditambahkan 25ml H2SO4 1,25%
Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak
Di didihkan diatas penangas air selama ±1,5-2 jam
Di dinginkan dan dimasukkan seluruhnya kedalam labu ukur 250ml
Dinetralkan dengan NaOh 3,25% menggunakan indicator PP kemudian di tepatkan sampai tanda garis dan di saring
Di pipet 10ml hasil saringan, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer asah, ditambahkan 25mllarutan luff dan 15nm aquadest
Dididihkan memakai pendingin tegak selama 10menit
Larutan didinginkan dan ditambahkan 10ml KI 30% dan 25ml H2SO4 25% melalui dinding Erlenmeyer
Dititar dengan larutan Tio 0,1000N hingga titik akhir, sebagai penunjuk digunakan larutan kanji
Blanko di tetapkan seperti diatas.


Pengamatan :

- Bobot Sampel               :  3.0073 gram
- Volume titrasi blanko     :  44.9 ml
- Volume titrasi sampel    :  7.2 ml


Perhitungan :

AT   =   (B - Sampel)ml X Ntio Standar
                      Ntio Standar

       =   (44.9 - 7.2) ml X 0.1000 mmol/meq
                        0.1000 mmol/meq

       =   37.7ml

3.77   =  7.2  +  (0.77 X 2.5)
         =  9.125 mg
         =  9.125  X  10  = 91.25 mg

%   =  Fp x mg Glukosa   x 100%
              mg Sampel

      =   25 X 91.25 mg  x 100%
              3007.3mg

      =  75.85%



Kesimpulan :


         Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar karbohidrat dalam sampel ialah 75.85 %



Nama                         :  Khusnul Khatima Syam
Kelas                          : IIIC
Nis                              : 114680
Kelompok                  :  C2.1
Judul penetapan        :  Penetapan kadar Karbohidrat dalam sampel (Mie Instan)
Tanggal mulai            : 06 Oktober 2013
Tanggal Selesai         : 06 Oktrober 2013

Tujuan Penetapan :

Mengetahui definisi Karbohidrat
Mengetahui prosedur kerja penetapan Kadar Karbohidrat
Mengetahui alat dan bahan yang di gunakan
Mengetahui reaksi yang terjadi
Mengetahui Kadar Karbohidrat dalam sampel Mie Instan.
Prinsip Kerja :
Contoh bereaksi dengan CuO berlebih, kelebihan CuO ditambahkan KI 30% dan H2SO4 25% kemudian dititar dengan larutan Na2S2O3 (Tio) 0,1N

Reaksi :

(C6H10O5)n + H2O n . C6H12O6
C6H12O6 + 2CuO Cu2O + C5H11O5-COOH
Sisa CuO + 2KI + H2SO4 CuI2 + K2SO4 + H2O
. CuI2 Cu2I2 + I2
I2 + 2Na2SO3 2NaI + Na2S4O6


Landasan Teori :

K A R B O H I D R A T

Karbohidrat adalah golongan senyawa organic yang terdiri atas unsure karbon,hydrogen dan oksigen. Pada umumnya karbohidrat memenuhi rumus empiric Cn(H2O)m dan itulah sebabnya golongan senyawa ini disebut karbohidrat yang berarti hidrat (karbon)/(hidrat arang). Karbohidrat adalah suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa-senyawa yang dapat terhidrolisis menghasilkan senyawa seperti itu. Satu contoh Polihidroksi Aldehid ialah Glukosa, dan contoh Keton ialah Fruktosa.
KLASIFIKASI KARBOHIDRAT

Berdasarkan reaksi hidrolisisnya, karbohidrat dibedakan atas :
Monosakarida
Monosakarida ialah karbohidrat yang paling sederhana, tidak dapat lagi di hidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana.
Oligosakarida
Oligosakarida ialah karbohidrat yang pada hidrolisis menghasilkan beberapa (2-10) molekul monosakarida. Yang terpenting dari golongan ini adalah disakarida yang dapat menghasilkan 2 molekul monosakarida.
Polisakarida
Polisakarida ialah karbohidrat yang dapat di hidrolisis membentuk banyak (>10) molekul monosakarida.

Monosakarida
Berdasarkan jenis gugus fungsinya, monosakarida dibedakan atas Aldosa dan Ketosa. Aldosa ialah monosakarida yang mengandung gugus aldehid, sedangkan Ketosa ialah monosakarida yang mengandung gugus keton. Glukisa,galaktosa,manosa dan ribose tergolong Aldosa, sedangkan fruktosa tergolong Ketosa.
Reaksi-reaksi Monosakarida :
Reaksi Oksidasi
Reaksi Mutarotasi
Reaksi Reduksi
Reaksi Pembentukan Ester.

Disakarida
Disakarida terbentuk dari kondensasi dua molekul monosakarida, masing-masing menggunakan gugus OHuntuk membentuk jembatan oksigen dan membebaskan satu molekul air. Karena dalam molekul monosakarida terdapat banyak gugus OH maka pembentukan dapat terjadi menurut berbagai cara. Disakarida terpenting ialah Sukrosa(gula Tebu), maltosa(gula Malt) dan laktosa(gula Susu).
Polisakarida
Suatu sakarida yang setiap molekulnya terdiri dari ratusan bahkan ribuan monosakarida, merupakan hasil fotosintesa pada tanaman.
6CO2 + 5n.H2O (C6H10O5)n.
Dari system ikatan monosakaridanya mengakibatkan adanya polisakarida yang dapat dicerna oleh lambung, yaitu pati atau karbohidrat, dan polisakarida yang tidak dapat dicerna oleh lambung yaitu selulosa atau serat kasar.
Karbohidrat ada yang bersifat pereduksi dan ada yang bersifat non pereduksi. Kedua sofat ini di karenakan adanya gugusan aldehid(pereduksi) dan gugusan Keton(non pereduksi). Ada 2 macam penetapan karbohidrat, yaitu :
Cara Titrasi (cara Luff)
Cara Spektrofotometri

Prinsip kerja kedua cara ini adalah hidrolisis pati oleh asam menjadi gula pereduksi. Pada penetapan cara luff dipakai pereduksi garam Cu kompleks, dimana glukosa yang bersifat pereduksi akan mereduksi Cu2+ menjadi Cu+ atau CuO direduksi menjadi Cu2Oyang berwarna merah bata. Kemudian kelebihan Cu2O ditetapkan dengan cara iodometri. Dengan menetapkan blanko, maka ml tio yang dibutuhkan untuk menitar Cu2+ dapat diketahui.

Alat & bahan :

Alat :
Erlenmeyer 300ml
Pipet volume 25ml
Buret asan 50ml
Erlenmeyer asah 300ml
Pendingin tegak
Penangas air
Gelas ukur 100ml
Pipet Volume 10ml
Labu ukur 250ml
corong
Bahan :
Mie Instan (sampel)
H2SO4 1,25%
H2SO4 25%
NaOH 3,25%
Indicator PP
KI 30%
Tio
Aquadest
Larutan Luff

  Prosedur Kerja :

Ditimbang 2,0026g sampel mie instan ke dalam Erlenmeyer 300ml
Ditambahkan 25ml H2SO4 1,25%
Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak
Di didihkan diatas penangas air selama ±1,5-2 jam
Di dinginkan dan dimasukkan seluruhnya kedalam labu ukur 250ml
Dinetralkan dengan NaOh 3,25% menggunakan indicator PP kemudian di tepatkan sampai tanda garis dan di saring
Di pipet 10ml hasil saringan, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer asah, ditambahkan 25mllarutan luff dan 15nm aquadest
Dididihkan memakai pendingin tegak selama 10menit
Larutan didinginkan dan ditambahkan 10ml KI 30% dan 25ml H2SO4 25% melalui dinding Erlenmeyer
Dititar dengan larutan Tio 0,1000N hingga titik akhir, sebagai penunjuk digunakan larutan kanji
Blanko di tetapkan seperti diatas.


Pengamatan :

- Bobot Sampel               :  3.0073 gram
- Volume titrasi blanko     :  44.9 ml
- Volume titrasi sampel    :  7.2 ml


Perhitungan :

AT   =   (B - Sampel)ml X Ntio Standar
                      Ntio Standar

       =   (44.9 - 7.2) ml X 0.1000 mmol/meq
                        0.1000 mmol/meq

       =   37.7ml

3.77   =  7.2  +  (0.77 X 2.5)
         =  9.125 mg
         =  9.125  X  10  = 91.25 mg

%   =  Fp x mg Glukosa   x 100%
              mg Sampel

      =   25 X 91.25 mg  x 100%
              3007.3mg

      =  75.85%



Kesimpulan :


         Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar karbohidrat dalam sampel ialah 75.85 %



Nama                         :  Khusnul Khatima Syam
Kelas                          : IIIC
Nis                              : 114680
Kelompok                  :  C2.1
Judul penetapan        :  Penetapan kadar Karbohidrat dalam sampel (Mie Instan)
Tanggal mulai            : 06 Oktober 2013
Tanggal Selesai         : 06 Oktrober 2013

Tujuan Penetapan :

Mengetahui definisi Karbohidrat
Mengetahui prosedur kerja penetapan Kadar Karbohidrat
Mengetahui alat dan bahan yang di gunakan
Mengetahui reaksi yang terjadi
Mengetahui Kadar Karbohidrat dalam sampel Mie Instan.
Prinsip Kerja :
Contoh bereaksi dengan CuO berlebih, kelebihan CuO ditambahkan KI 30% dan H2SO4 25% kemudian dititar dengan larutan Na2S2O3 (Tio) 0,1N

Reaksi :

(C6H10O5)n + H2O n . C6H12O6
C6H12O6 + 2CuO Cu2O + C5H11O5-COOH
Sisa CuO + 2KI + H2SO4 CuI2 + K2SO4 + H2O
. CuI2 Cu2I2 + I2
I2 + 2Na2SO3 2NaI + Na2S4O6


Landasan Teori :

K A R B O H I D R A T

Karbohidrat adalah golongan senyawa organic yang terdiri atas unsure karbon,hydrogen dan oksigen. Pada umumnya karbohidrat memenuhi rumus empiric Cn(H2O)m dan itulah sebabnya golongan senyawa ini disebut karbohidrat yang berarti hidrat (karbon)/(hidrat arang). Karbohidrat adalah suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa-senyawa yang dapat terhidrolisis menghasilkan senyawa seperti itu. Satu contoh Polihidroksi Aldehid ialah Glukosa, dan contoh Keton ialah Fruktosa.
KLASIFIKASI KARBOHIDRAT

Berdasarkan reaksi hidrolisisnya, karbohidrat dibedakan atas :
Monosakarida
Monosakarida ialah karbohidrat yang paling sederhana, tidak dapat lagi di hidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana.
Oligosakarida
Oligosakarida ialah karbohidrat yang pada hidrolisis menghasilkan beberapa (2-10) molekul monosakarida. Yang terpenting dari golongan ini adalah disakarida yang dapat menghasilkan 2 molekul monosakarida.
Polisakarida
Polisakarida ialah karbohidrat yang dapat di hidrolisis membentuk banyak (>10) molekul monosakarida.

Monosakarida
Berdasarkan jenis gugus fungsinya, monosakarida dibedakan atas Aldosa dan Ketosa. Aldosa ialah monosakarida yang mengandung gugus aldehid, sedangkan Ketosa ialah monosakarida yang mengandung gugus keton. Glukisa,galaktosa,manosa dan ribose tergolong Aldosa, sedangkan fruktosa tergolong Ketosa.
Reaksi-reaksi Monosakarida :
Reaksi Oksidasi
Reaksi Mutarotasi
Reaksi Reduksi
Reaksi Pembentukan Ester.

Disakarida
Disakarida terbentuk dari kondensasi dua molekul monosakarida, masing-masing menggunakan gugus OHuntuk membentuk jembatan oksigen dan membebaskan satu molekul air. Karena dalam molekul monosakarida terdapat banyak gugus OH maka pembentukan dapat terjadi menurut berbagai cara. Disakarida terpenting ialah Sukrosa(gula Tebu), maltosa(gula Malt) dan laktosa(gula Susu).
Polisakarida
Suatu sakarida yang setiap molekulnya terdiri dari ratusan bahkan ribuan monosakarida, merupakan hasil fotosintesa pada tanaman.
6CO2 + 5n.H2O (C6H10O5)n.
Dari system ikatan monosakaridanya mengakibatkan adanya polisakarida yang dapat dicerna oleh lambung, yaitu pati atau karbohidrat, dan polisakarida yang tidak dapat dicerna oleh lambung yaitu selulosa atau serat kasar.
Karbohidrat ada yang bersifat pereduksi dan ada yang bersifat non pereduksi. Kedua sofat ini di karenakan adanya gugusan aldehid(pereduksi) dan gugusan Keton(non pereduksi). Ada 2 macam penetapan karbohidrat, yaitu :
Cara Titrasi (cara Luff)
Cara Spektrofotometri

Prinsip kerja kedua cara ini adalah hidrolisis pati oleh asam menjadi gula pereduksi. Pada penetapan cara luff dipakai pereduksi garam Cu kompleks, dimana glukosa yang bersifat pereduksi akan mereduksi Cu2+ menjadi Cu+ atau CuO direduksi menjadi Cu2Oyang berwarna merah bata. Kemudian kelebihan Cu2O ditetapkan dengan cara iodometri. Dengan menetapkan blanko, maka ml tio yang dibutuhkan untuk menitar Cu2+ dapat diketahui.

Alat & bahan :

Alat :
Erlenmeyer 300ml
Pipet volume 25ml
Buret asan 50ml
Erlenmeyer asah 300ml
Pendingin tegak
Penangas air
Gelas ukur 100ml
Pipet Volume 10ml
Labu ukur 250ml
corong
Bahan :
Mie Instan (sampel)
H2SO4 1,25%
H2SO4 25%
NaOH 3,25%
Indicator PP
KI 30%
Tio
Aquadest
Larutan Luff

  Prosedur Kerja :

Ditimbang 2,0026g sampel mie instan ke dalam Erlenmeyer 300ml
Ditambahkan 25ml H2SO4 1,25%
Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak
Di didihkan diatas penangas air selama ±1,5-2 jam
Di dinginkan dan dimasukkan seluruhnya kedalam labu ukur 250ml
Dinetralkan dengan NaOh 3,25% menggunakan indicator PP kemudian di tepatkan sampai tanda garis dan di saring
Di pipet 10ml hasil saringan, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer asah, ditambahkan 25mllarutan luff dan 15nm aquadest
Dididihkan memakai pendingin tegak selama 10menit
Larutan didinginkan dan ditambahkan 10ml KI 30% dan 25ml H2SO4 25% melalui dinding Erlenmeyer
Dititar dengan larutan Tio 0,1000N hingga titik akhir, sebagai penunjuk digunakan larutan kanji
Blanko di tetapkan seperti diatas.


Pengamatan :

- Bobot Sampel               :  3.0073 gram
- Volume titrasi blanko     :  44.9 ml
- Volume titrasi sampel    :  7.2 ml


Perhitungan :

AT   =   (B - Sampel)ml X Ntio Standar
                      Ntio Standar

       =   (44.9 - 7.2) ml X 0.1000 mmol/meq
                        0.1000 mmol/meq

       =   37.7ml

3.77   =  7.2  +  (0.77 X 2.5)
         =  9.125 mg
         =  9.125  X  10  = 91.25 mg

%   =  Fp x mg Glukosa   x 100%
              mg Sampel

      =   25 X 91.25 mg  x 100%
              3007.3mg

      =  75.85%



Kesimpulan :


         Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar karbohidrat dalam sampel ialah 75.85 %